Pelopor Penjual Mie Ayam di Caruban, Ini Orangnya

0
56

keterangan foto : Mbah Sodir pelopor penjual mie ayam di Caruban saat melayani pembeli

MADIUN, Beritamadiun.Com – Pelopor penjual mie ayam di Caruban pertama kali, orangnya ada di dalam area terminal bus Caruban kabupaten Madiun Jawa timur. Berdua bersama sang istri masih setia melayani pembeli meski sudah tidak seramai pada masa jaman keemasannya dulu, namun cita rasa mie ayamnya masih khas di lidah para pelanggannya.

Suasana terik panas hari ini, membuat Perut terasa lapar. Selepas dhuhur kupacu motorku menuju terminal Caruban untuk berburu kuliner mie ayam legendaris itu. Tidak sia sia akhirnya kutemukan sebuah gerobak mie berwarna biru di dalam area terminal, bergegas aku kesana lalu aku pesan semangkuk mie ayam komplit dengan tahu bacem serta teh hangat tawar.

Keterangan Foto : Mie Ayam Mbah Sodir semangkuk hanya Rp.8000 rupiah

“Pak mie ayam satu komplit tahu bacemnya ya, oh ya sama teh hangat tawar,” pesanku.

Selang berapa menit pesanan mie ayam ku pun jadi komplit dengan tahu bacemnya dan yang paling khas adanya daun bawang yang diiris iris ditaruh dalam mangkuk dan kita bebas mengambilnya semau kita. Setelah selesai kucoba berbasa basi bertanya nama penjual mie ayam tersebut.

Namanya Sodir, atau akrab dipanggil Mbah Sodir. Pria berusia 59 tahun ini dengan ramah bercerita perjalanan hidupnya berjualan mie ayam. Mbah Sodir mengklaim bahwa dialah yang pertama kali berjualan mie ayam di Caruban jauh sebelum penjual mie ayam marak seperti sekarang ini. Dengan harga semangkuk waktu itu masih seharga Rp.250 rupiah.

“Jualan di Caruban sudah sejak tahun 1988 harga satu mangkuk mie ayam masih Rp. 250 rupiah, waktu itu belum ada sama sekali yang jual mie ayam. Kalau bakso banyak waktu itu,” terangnya pada beritamadiun.com, Sabtu (7/9/2019).

Sebelum masuk ke Caruban, Mbah Sodir yang asli Jawa tengah ini berkelana ke ibu kota Jakarta. Disana dia ikut juragan mie ayam hingga bertemu Salamah yang sekarang menjadi istrinya. Dirasa kerja ikut orang tidak bisa berkembang akhirnya Mbah Sodirpun membulatkan tekad untuk hijrah ke Jawa timur dan ibu kota kabupaten Madiun yakni Caruban menjadi tujuannya, ” ikut bos mie ayam di Jakarta lama saya dan karena ingin berkembang akhirnya saya bersama istri memutuskan untuk pindah ke Caruban ini. Tapi sebelum memutuskan hijrah saya sempat survei dulu, kira kira di Caruban ini yang belum ada apa ya dan waktu itu mie ayam belum ada mas jadi saya putuskan jualan mie ayam,” ungkapnya.

Menurut Mbah Sodir, masyarakat di Caruban sempat heran melihat jualannya dan pembelinya kala itu masih sebatas yang tau mie ayam saja atau pendatang dari kota besar seperti Surabaya.

“Masyarakat disini sempat heran lihat jualan saya saat masih kelilingan mungkin mereka berpikir itu jualan apa ya?, pembeli mie ayam saya juga masih terbatas juga cuman orang orang yang tau aja apa itu mie ayam,” kata Mbah Sodir sembari tersenyum.

Sempat merasakan jaman keemasan saat Mbah Sodir memutuskan tidak berkeliling lagi dan berjualan dirumahnya yang terletak di desa Sidodadi kecamatan Mejayan kabupaten Madiun. Dimana dia dengan bangga bercerita pelanggan mie ayamnya setiap hari antri membeli mie ayam hingga dirinya merasa kewalahan, ” tahun 1999 saya memutuskan untuk jualan dirumah setelah dua tahun berjualan keliling, dan alhamdulilah pelanggan saya pada datang beli ke rumah waktu itu yang beli sampe antri antri, bayangkan saya buka jam satu siang sampek jam 1 malam sampai kuwalahan sendiri saya, sampe nolak nolak, kalah itu orang punya hajat,” terang Mbah Sodir.

Para Pelanggan Mie Ayam Mbah Sodir

Mungkin karena ingin ekspansi untuk memajukan usahanya mbah Sodir pun mencari lokasi baru untuk usaha mie ayamnya. Pada tahun 2001 membuka jualan mie ayam di area terminal Caruban tepatnya di sebelah kantor dinas perhubungan kabupaten Madiun dan propinsi Jawa timur. Usaha mie ayam yang dirumah dipasrahkan kepada anaknya.

Hingga saat ini dirinya masih berjualan mie ayam dengan ditemani oleh istrinya, meski sudah tidak seramai dulu mbah Sodir ini masih tetap menjaga rasa mie ayamnya. Kendati demikian Mbah Sodir bangga dari hasil berjuang berjualan mie ayam bisa membelikan anak anaknya tanah serta menurunkan ilmu dan resepnya  kepada adik adiknya hingga mereka bisa sukses seperti sekarang. Seperti mie ayam yang berada di pasar burung Caruban dan di lemahbang Saradan yang merupakan milik adik kandungnya,

” Tahun 2001 waktu itu saya putuskan pindah mas ke terminal Caruban ya hingga sekarang, saya bersyukur dari hasil berjualan mie ayam bisa membelikan anak tanah untuk dibuat rumah dan dua anak saya sudah pada mentas, meski saat ini meski tidak seramai dulu tetap saya syukuri. Ini yang lagi naik daun adik saya Roni yang jualan di pasar burung itu sama di Saradan juga masih adik kandung saya,” pungkasnya.

Pengakuan Mbah Sodir sebagai penjual mie ayam pertama kali di Caruban ini dibenarkan juga oleh Johanes sekretaris dinas perhubungan kabupaten Madiun, saat bertemu diwarung mie ayam,

“Pak Sodir ini penjual mie ayam pertama kali di Caruban ini, waktu itu Caruban sama sekali belum ada penjual mie ayam ya cuman pak Sodir ini,” kata Johanes.

Lokasi warung mie ayam mbah Sodir di sebelah kantor dinas Perhubungan Kabupaten Madiun / di area terminal Caruban

Jika mau mencoba mie ayamnya Mbah Sodir pembaca bisa langsung ke terminal Caruban disana hanya ada satu penjual mie ayam harganya pun terjangkau hanya Rp. 8000 rupiah satu mangkok, bagaimana mau coba?.han

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here