Istighosah Hari Jadi Kabupaten Madiun Ke-451, Bupati Kaji Mbing Minta Tak Boleh Lupakan Perjuangan Para Pendahulu

0
34

Bupati Madiun, Ahmad Dawami membuka istighosah menjelang peringatan hari jadi Kabupaten Madiun ke-451 di Pendopo Muda Graha, Rabu (17/7/2019) malam.

MADIUN, Beritamadiun.com–Bupati Madiun, Ahmad Dawami menggelar istighosah menjelang hari jadi Kabupaten Madiun Ke-451 di Pendopo Muda Graha, Rabu ( 17/7/2019) malam.


Istighosah dihadiri Wakil Bupati Madiun, Hari Wuryanto, Kapolres Madiun, AKBP Ruruh Wicaksono, Dandim 0803 Madiun, Letnan Kolonel Czi Nur Alam Sucipto, anggota Forpimda, seluruh pimpinan organisasi perangkat daerah, camat dan seluruh kepala desa se Kabupaten Madiun. Tak hanya itu, istighosah juga diikuti Ketua PC NU Kabupaten Madiun, KH Mizan Basyari, ulama, kyai dan tokoh masyarakat.


Bupati Madiun, Ahmad Dawami yang biasa disapa dalam sambutannya menyatakan lewat istighosah diharapkan kedepan Kabupaten Madiun lebih baik sesuai dengan visi dan misiinya, aman, mandiri sejahtera dan berakhlak.


Saat membuka istighosah, Bupati Ahmad Dawami yang biasa akrab disapa Kaji Mbing itu menceritakan sejarah singkat berdirinya Kabupaten Madiun.


Lima abad yang lalu tepatnya tanggal 18 Juli 1568, berdirinya Kabupaten Madiun ditandai dengan dilantiknya bupati pertama yakni Ronggo Djumeno Atau Pangeran Timor. Pelantikan Ronggo Djumeno sebagai bupati menjadi titiik awal berdirinya kabupaten Madiun.


Setelah Retno Dumilah menjabat sebagai bupati kedua, ada perselisihan antara Mataram dan Purabaya. Perselisihan itu diakhiri dengan dipersuntingya Retno Dumilah sebagai permaisuri Raja Mataram Islam, Danang Sutawijaya yang dikenal dengan sebutan Panembahan Senopati. Setelah berada dibawah kekuasaan Mataram, nama Purabaya berubah menjadi Madiun.


Sebelum berubah nama menjadi Madiun, kata Kaji Mbing, daerah Madiun masih bernama Purabaya. Tak lama menjabat sebagai bupati pertama, Pangeran Timor memberikan tahta kekuasannya kepada putrinya, Ratu Retno Dumilah.


Menurut Kaji Mbing, pusat pemerintahan berpindah ke Mudagraha sejak tahun 1820 yang saat itu dipimpin bupati ke 18, Ronggo Prawirodiningrat.
Sementara itu diera abad kesembilan belas, Madiun mengukir sejarah dimasa tahun 1948 dan 1965.

Dengan demikian, perjalanan sejarah panjang sudah dilalui Kabupaten Madiun. Ia berharap bisa memahami perjuangan para pendiri dan punggawa Kabupaten Madiun.


“Perjuangan para pendahulu tidak boleh dilupakan. Harus diingat. Setiap pemimpin pasti akan memberikan terbaik bagi kabupaten Madiun,” demikian Kaji Mbing. (aly)