Cerita Masyarakat Desa Mendak Sukses Kelola Wisata Alam Watu Rumpuk

0
84
Salah satu spot foto favorit pengunjung wisata alam Watu Rumpuk di Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun

MADIUN, Beritamadiun.Com—Dua tahun terakhir, Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun menjadi buah bibir para pecinta wisata alam di Jawa Timur. Bukan hanya lantaran berhasil menyulap bukit dan lereng gunung menjadi obyek wisata alam nan elok dan permai yang tenar dengan sebutan Watu Rumpuk saja.

Bangkitnya warga Desa Mendak pasca virus banyak memunahkan habitat cengkeh menginspirasi banyak daerah untuk mencontoh inovasi desa yang berada diselingkar Wilis tersebut.  Dua tahun terakhir, Desa Mendak meraih penghargaan mulai dari desa terbaik kedua hingga wisata alam terbaik ketiga kategori wisata alam di Jawa Timur hingga dinobatkan sebagai desa tangguh bencana terbaik pertama se Jawa Timur.

Penggagas Wisata Watu Rumpuk, Purwadi kepada beritamadiun.com mengatakan pembangunan wisata Watu Rumpuk berawal dari keinginan warga memperbaiki ekonomi para petani cengkeh yang terpuruk setelah tanaman cengkeh semuanya hampir punah terserang virus.

Menurut Purwadi, empat tahun lalu Desa Mendak  mengalami bencana paceklik menyusul punahnya habitat cengkeh yang menjadi pendapatan terbesar para petani.  Padahal sebelumnya, penghasilan masyarakat setiap panen bisa mencapai Rp 7 milyar. 

beritamadiun.com/alawy
SWAFOTO–Nampak warga berswafoto di salah satu titik di wisata alam Watu Rumpuk, Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.

“Sejak empat tahun lalu, tanaman cengkeh milik para petani diserang virus hingga banyak yang mati. Kondisi ini menjadikan perekonomian warga kami kolap. Banyak petani cengkeh bangkrut setelah tanaman cengkehnya musnah diserang virus,” jelas Purwadi.

Kendati banyak tanaman cengkeh milik petani punah, kata Purwadi, warga Desa Mendak tidak putus asa. Para petani berkumpul dan berembug mencari jalan agar mereka bisa bertahan hidup tanpa mengandalkan dari komoditi cengkeh.

Gayung bersambut. Warga mengusulkan agar bersama-sama menjadikan komoditi buah-buahan seperti durian dan manggis menjadi andalan utama menambah pendapatan ekonomi.  Namun setelah dihitung, pengembangan budidaya buah durian dan manggis tidak bisa menutupi kebutuhan warga. Tak berapa lama kemudian, beberapa warga memiliki ide untuk mencoba pengembangan wisata alam Watu Rumpuk yang belum terpoles sama sekali. 

Beritamadiun.com/alawy
TAMAN–Inilah salah satu ruang taman indah di wisata alam Watu Rumpuk di Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun

Untuk modal awal pengembangan parawisata alam di Watu Rumpuk, pemerintah desa mengeluarkan biaya  Rp 45 juta pada tahun 2017. Anggaran itu digunakan untuk membuka lahan. Selang setahun kemudian, Pemerintah Desa Mendak menganggarkan dana sebesar Rp 250 juta. Total anggaran yang sudah dikeluarkan untuk membangun pariwisata di Mendak mencapai Rp 350 juta.

Purwadi mengatakan  pemerintah desa bersama masyarakat tak hanya mengandalkan pesona alam di wisata Watu Rumpuk. Dalam waktu dekat, pemerintah desa dan masyarakat akan membangun wisata air water boom hingga wisata edukasi yang isinya mengenalkan aneka tanaman dan tumbuhan. 

Selain itu, di area wisata Watu Rumpuk akan dibangun Kampung Tempo Doloe untuk mengenang sejarah Desa Mendak. Tak hanya itu, pemerintah desa akan mengembangkan wisata pendakian ke gunung Tapak Bimo yang memiliki situs telapak kakinya Bimo dengan panjang 16 meter dan lebar 8 meter.  “Kami juga membuat wisata sejarah berupa pendakian ke gua jepang karena didalamnya ada bungker yang digunakan sebagai tempat persembunyian tentara jepang kala itu,” jelas Purwadi.

Dari kerja keras warga dan pemerintah desa, saat ini total warga yang terlibat dalam pengelolaan wisata watu rumpuk sebanyak 50 orang dan pengelola UMKM mencapai  42 orang. Sementara tenaga yang terlibat aktif di wisata ini sebanyak 160 orang yang semuanya berasal dari Desa Mendak.

Beritamadiun.com/alawy
SWAFOTO FAVORIT–Spot foto di cangkir raksasa menjadi salah satu tempat favorit swafoto di wisata alam Watu Rumpuk, Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.

Tak hanya menyerap banyak tenaga kerja dan menumbuhkan iklim usaha bagi warga Desa Mendak. Setiap bulannya,  wisata Watu Rumpuk mampu memberikan pendapatan kepada kas pemerintah desa sebulannya Rp 8 juta.

Utamakan Petani

Kepala Desa Mendak, Nur Cholifah mengatakan untuk mengembangkan wisata Watu Rumpuk  pihaknya lebih mengutamakan memberdayakan petani terlebih dahulu dibandingkan investor.  Ia mengkhawatirkan bila diserahkan ke investor maka petani tidak akan banyak mendapatkan manfaatnya. “Kami tidak mau tempat ini menjadi milik investor,” jelas Cholifah.

Bupati Madiun, Ahmad Dawami bersama Ketua Tim Penggerak PKK, Ny. Penta Lianawati dan Camat Dagangan, Muhammad Zahrowi berada di salah satu titik wisata Watu Rumpuk di Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.

Sementara itu Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa Kabupaten Madiun, Joko Lelono menyatakan kesuksesan pemerintah desa Mendak mengelola pariwisata alam menjadikan desa itu masuk empat besar dalam lomba bulan bakti gotong royong masyarakat tingkat Pemprop Jawa Timur. Desa Mendak masuk empat besar dalam lomba lantaran kesuksesan warga dan pemerintah desa mewujudkan sebuah wahana wisata alam hanya kurun waktu dua tahun dan membawa dampak ekonomi luar biasa bagi masyarakat desa Mendak dan sekitarnya.

Bupati Madiun, Ahmad Dawami yang biasa disapa Kaji Mbing mengapresiasi semangat gotong royong warga Desa Mendak yang bisa membangun salah wisata alam yang spektakuler di Jawa Timur setelah virus memusnahkan habitat cengkeh petani. Pemerintahpun tidak menutup mata sehingga memberikan stimulus kepada Pemerintah Desa Mendak untuk membangun wahana wisata Watu Rumpuk lebih indah lagi. (aly)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here